PULSA-Pulsa Termurah |Dealer Pulsa Elektrik-Distributor Pulsa Murah Bisnis Pulsa Elektrik Pulsa murah Voucher Elektronik USSD Download gratis Free Forex MT4 EA Expert Advisor Fusion
Senin, 2016-12-05, 3:31 AM

Pulsa Elektrik Termurah Jateng-Jakarta-Jogja-Jatim_Bandung

Detail Menu


Pulsa Elektrik
Download Gratis
Menu Utama
Free Backlink
Business Blogs
business blog Free Backlink Exchange-Tukar Link Sistema Enlaces Reciprocos Sistema Enlaces Reciprocos
Just copy this banner code to your website or blog:This program is a free automatic backlinks exchange services and free web traffic from other users. Everyone knows how important backlinks to get a high pagerank. Here, we offer a backlink for free and very fast for your sites. Copy the html code first, and then paste to your website or blog. To view your backlink you can click the image link from your website or blog. And well... your website url done and will be displaying in last references. If any visitors click this banner from your website or blog, your url backlink will be creating automatically in this website. Enjoy with this seo tricks.   

Recent Referer Backlinks

Backlink Friend

Free Automatic Backlink Free Automatic Backlink Kostenlose Backlink Austausch Cárdenas.net Free Backlinks DAHOAM Free Backlinks Linki Linki Free Backlinks ECBanner Die Gute Saat Free Automatic Link Die Gute Saat Free Automatic Link Free Backlinks Exchange Free Automatic Link kostenlose backlinks Free Automatic Link echange de liens Free Automatic Link Free Automatic Link Intercambio de enlaces Free Automatic Link Free Automatic Link Free Automatic Link Free Automatic Link Free Automatic Elvira Links Free Automatic Link Free Automatic Link Intercambio gratis de Enlaces Free Backlinks Free Backlinks Free Backlinks Free Backlinks Enlaces Gratis Unlimited Backlink Exchange Unlimited Backlink Exchange Free Backlinks Streichquartett Tradiciones Peruanas de Ricardo Palma














Streichquartett Automatic Backlink Exchange Free Automatic Link Multiple Backlinks


La Bonne Semence Free Automatic Link Plugboard Free Backlink Exchange
Web Link Exchange Text Backlink Exchanges Soqoo Link Exchange Text Back Link Exchange Text Back Links Exchange Text Back Links Exchanges backlink Hochzeitsmusik - Streichquartett backlink backlink Free Auto Backlink Generator Get a Free Backlink Florists Links top backlinks referers free Get a Free Backlink trafic backlinks Kostenlose Backlinks bei http://www.backlink-clever.de
SEO-Supreme Professional search tools for free referents backlinks backlinks refere free instant backlink for blog and website
[ New messages · Members · Forum rules · Search · RSS ]
Page 1 of 11
Forum » Info Ilmu Islam » Pengetahuan Marifat » KEMATIAN Wujud Lain Kehidupan (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-NYA.”)
KEMATIAN Wujud Lain Kehidupan
dibyoDate: Kamis, 2009-10-08, 2:07 AM | Message # 1
Colonel
Group: Administrators
Messages: 154
Reputation: 0
Status: Offline
KEMATIAN Wujud Lain Kehidupan

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa,
kecuali wajah-NYA.” (QS Al-Qashas : 88)
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa dan tetap kekal wajah Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.”
(QS Al Rahman : 26-27)

Semua berasal dari ALLAH dan akan kembali kepada ALLAH. Tidak ada sebuah kehidupan yang kekal, kecuali ALLAH. Semua selain ALLAH pasti berakhir masa hidupnya, binasa, rusak atau mati. Demikian juga halnya dengan kehidupan manusia. Seperti dijelaskan dalam qur’an bahwa:

“Tidak seorang manusiapun sebelumnya yang kekal (yang KAMI jadikan kekal) . Maka sekiranya engkau mati apakah mereka akan hidup kekal ? Tiap diri (manusia) akan merasakan kematian. Dan KAMI akan coba kamu (dalam kehidupan ini) dengan kesusahan dan kebaikan, dan kepada KAMI lah akhirnya akan dikembalikan.”
(Al Anbiya’ 34-35)

“Dimana saja kamu berada, mati pasti akan menjumpaimu, sekalipun kamu berada dalam mahligai yang kokoh.”
(An Nisaa : 78)

Kematian adalah tahapan kehidupan manusia dimana hidup atau roh yang ada dalam tubuh telah habis masanya dan harus meninggalkan jasad. Kematian adalah proses kembalinya unsur Ilahiah manusia kepada pemiliknya. Jiwa manusia yang Min Ruhi milik ALLAH menjadi kembali kepada ALLAH.

“Katakanlah, bahwa mati yang kamu lari daripadanya, pasti akan menemui kamu juga, kemudian itu kamu akan dikembalikan kepada Tuhan yang mengetahui perkara-perkara ghaib dan nyata, lalu Ia akan kabarkan kepadamu segala apa yang telah kamu lakukan (perbuat).” (Al Jumu’ah : 8)

Jiwa manusia dengan min-ruhinya adalah Ibarat disck memory dalam computer yang sedang aktif. Analog dengan kerja disk memori yang menyimpan segala hasil kerja computer, jiwa juga menyimpan segala hasil perbuatan kita selama hidup. Ketika computer kita off-kan maka computer kita mati tidak bekerja, akan tetapi ingatan yang ada dalam disck memori tidak hilang begitu saja. Begitu juga jiwa manusia, apabila min ruhi kembali kepada sumbernya, segala rekaman perbuatan yang ada padanya tidak hilang.

Proses kematian adalah proses dimana min ruhi meninggalkan jasad – tubuh menjadi mati. Akan tetapi ia membawa jiwa (yang masih dihidupi oleh min ruhi) kepada keadaan lain – dengan alam Kesadaran lain.

Suasana alam Kesadaran Jiwa tersebut, sangat tergantung kepada segala rekaman hasil perbuatan hidup selama berada di alam dunia. Hasil rekaman inilah yang membentuk alam Kesadaran manusia di alam tersebut. Seperti segala hasil kerja computer yang terekam dalam disc memori begitulah – hasil perbuatan (amal) terekam dalam Kesadaran Jiwa.
Suasana atau Keadaan kematian dapat kita teliti dari Keadaan Kesadaran kita dalam keadaan tidur. Seperti sabda Nabi Muhammad s.a.w. bahwa:

“Sebagaimana kamu tidur, begitulah kamu mati, dan sebagaimana kamu terbangun dari tidurmu, begitu pulalah
kamu dibangunkan di akherat kelak.”

Ketika tidur min-ruhi tetap menghidupi jiwa sehingga jiwa tetap hidup dan sadar. Pada saat tidur kita mengalami mimpi – Kesadaran kita merasakan seolah-olah mengalami kejadian yang sebenarnya.

Dalam kematian, manusia tidak menemukan apa-apa selain sifat-sifatnya sendiri, yang tidak lagi diselubungi oleh jasad materi, tetapi memperlihatkan hakikatnya kepada orang itu dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan tempat tinggalnya yang baru. “Hubungan jiwa dengan badan yang menghalanginya dari pemahaman terhadap realitas segala sesuatu, sedangkan kematian menghilangkan tabir penghalang itu :….KAMI singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam (QS Qaf : 22).

Kematian adalah kehidupan spiritual ditingkat lain, dalam kematian jiwa dengan min-ruhinya tetap hidup dengan wujud sesuai dengan hasil perbuatan-perbuatannya di masa lalunya. Ketika pindah alam dari dunia fisika kepada dunia non-fisika maka Jiwa manusia akan menemukan tubuh dan alam barunya yang bersifat mental (non-material) sesuai dengan amal perbuatannya didunia.

“Ada tiga hal yang mengikuti mayat, dua yang kembali dan satu yang tinggal bersama mayat. Yang mengikutinya ialah 1. keluarganya 2. sebagian hartanya dan 3. amal perbuatannya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya, dan yang tinggal adalah amalnya.” (H.R.Muslim)

Dalam alam kematian – kehidupan tidak lagi melibatkan otak, sehingga tidak ada lagi perkembangan tentang Kesadaran yang bersifat intelektual, emosional bahkan spiritual sekalipun. Kehidupan telah lepas dari hukum-hukum berpikir.

Kematian Sebuah Akhir dari Awal Yang baru.
Kehidupan kematian adalah lebih sadar dari kehidupan di dunia. Seperti dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib:

“Manusia hidup seperti orang tidur, bila sudah mati menjadi seperti orang yang sudah bangun tidur.”

Ketika jiwa meninggalkan jasadnya dan memasuki dimensi lain yang disebut barzakh. Kesempatan untuk meningkatkan kualitas spiritual telah terputus kecuali karena beberapa hal, seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadits berikut:

“Semua amalan anak adam terputus kecuali 1) amal jariah (amal yang kemanfaataannya dapat dinikmati terus-menerus walau sipengamal sudah meninggal) 2) ilmu yang bermanfaat (ilmu yang dibagikannya dapat memberikan kemanfaatan bagi banyak orang walau si pembagi sudah wafat) dan 3) do’a anak yang sholeh.” (Hadits )

Kematian adalah momen penentu bagi jiwa untuk dalam memasuki dimensi berikut dari kehidupan. Momen penentuan perpisahan antara jiwa dan jasad adalah momen yang disebut dengan “sakaratul maut”. Seperti yang di riwayatkan oleh Imam Bukhary dan Ahli Hadits lainnya dari Aisyah r.a, bahwa Rasulullah s.a.w pada waktu beliau dalam keadaan sakarat, beliau masukkan tangannya kedalam sebuah bejana susu yang berisi air, terletak dihadapan beliau, lalu beliau sapukan tangan yang basah itu ke mukanya sekedar mengurangi rasa sakitnya sambil mengucapkan:

“Tak ada Tuhan yang patut disembah kecuali ALLAH. Sesungguhnya untuk maut itu ada masa sekarat (krisis).”

Berkenaan dengan sakaratul maut, Haji Slamet Oetomo Blambangan pernah berkata kepada penulis “begitu krisisnya masa sakaratul maut, sampai-sampai yang dikhawatirkan oleh para Nabi dan para Wali ALLAH adalah saat sakaratul maut”.

Begitu krisisnya sakaratul maut, sampai-sampai Rasululullah s.a.w berdo’a:

“Ya ALLAH ringankanlah bagiku sakaratul maut”.

Tentang sakaratul maut ini, ada baiknya kita kenang kisah Musa a.s, dimana Para malaikat bertanya kepada Musa: Yâ ahwanal anbiya mautan. Kaifa wajadta al-mawt? Hai Nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian? Musa berkata: Ka syâtin tuslakhu wa hiya hayyatan. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup

Kematian adalah momen penting bagi sebuah kehidupan baru, kematian itu adalah bukan hal yang lain dari kehidupan ini. Sebagaimana kehidupan sebelum kelahiran kita ke dunia. Ibn ‘Arabi dan para sufi lainnya menganggap kematian ini sebagai kembali kepada Allah secara terpaksa, ruju’ idhtirari. Semua makhluk akan mengalami kematian jenis ini, suka atau tidak suka. Dalam seluruh perjalanan kembali kepada Allah, kematian hanyalah salah satu episode saja setelah episode kehidupan di dunia ini. Episode ini adalah episode antara – barzakh- yang terentang antara dunia dan akhirat. Jadi, kematian pada hakikatnya adalah kehidupan baru dengan aturan-aturan dan pengalaman-pengalaman yang baru. Misalnya, jika dalam kehidupan dunia, jauhnya perjalanan kita dihitung dengan umur; dalam kehidupan barzakh, lamanya perjalanan dihitung dari dosa-dosa yang kita lakukan dalam kehidupan yang awal.

Kematian adalah proses kepulangan kehidupan ke kampung halamannya roh. Roh yang datang ke dunia berasal dari kampung asalnya “ALLAH” dan harus mudik kembali ke kampung asalnya lagi “ALLAH”. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un.

Supaya dapat pulang dengan selamat ke kampung halaman asal kehidupan ini, kita harus tahu dengan sebenar-benarnya hal ihwal tentang kampung halaman tersebut. Bagaimana sebenarnya kampung halaman kehidupan kita ini “ALLAH”? serta bagaimana jalan menuju ke kampung halaman tersebut?

Lebih dalam memahami makna kematian ada baiknya kita simak kisah dari K.H Jalaludin Rachmad sebagai berikut :

Ada seorang mulia di Bukhara bernama Sadr-e Jahan. Ia terkenal dermawan. Ia membagi-bagikan emas dari pagi sampai malam. Hari ini ia membagi orang-orang sakit; esok harinya para janda, keturunan Ali, atau para santri yang belajar agama. Tidak terlupakan orang miskin biasa atau orang yang terlilit utang. Ia memberikan hartanya kepada siapa saja, dengan satu syarat: Orang tidak boleh meminta dengan mulutnya. Para peminta harus berdiri membisu, seperti tembok, pada jalan-jalan yang akan dilewatinya.

Pada suatu hari, seorang santri tiba-tiba merengek meminta. Ia menyampaikan permohonannya dengan mengiba. Sadr-e Jahan tidak memperdulikannya. Pada hari berikutnya, ia membungkus kakinya dengan kain lusuh, dengan kepala merunduk, menunjukkan bahwa kakinya patah. Sang dermawan itu tetap tak acuh. Ia tidak dapat mengampuni dosanya; yakni, meminta dengan berkata. Berikutnya lagi, ia mencoba menutup mukanya dengan jas hujan, atau menutupkan chadar ke kepalanya, lalu berkumpul bersama para wanita tua. Raja masih juga mengenalnya.

Akhirnya, pagi-pagi sekali ia pergi ke tukang kafan. Ia berkata, “Bungkuslah tubuhku dengan kain kafan. Letakkan aku di pinggir jalan. Duduklah kamu di sampingku. Jangan buka mulutmu. Tunggulah sampai Sadr-e Jahan lewat. Mudah-mudahan ia mengira aku mati. Ia akan melemparkan uang emasnya untuk membantu biaya pemakaman.” Seperti yang direncanakan, Sadr-e Jahan melewati orang itu, melemparkan uang emas ke atas kain kafannya. Karena kuatir uangnya disambar orang, santri itu mengeluarkan tangannya, juga kepalanya. Sambil tertawa ia berkata kepada Raja, “Akhirnya aku memperoleh kemurahanmu juga.”

Ia menjawab, “Sampai kamu mati, hai orang kepala batu
Kamu tidak memperoleh anugerahku

Rahasia “mati sebelum mati” inilah dia
Setelah mati barulah kamu mendapat karunia

Hai penipu, tidak ada cara selain kematian,
Untuk bisa menggapai Tuhan”
Jalaluddin Rumi

Smart Personal: Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat mati

Kematian adalah sentral pembicaraan spiritual sejati, karena dalam kematian sajalah kehidupan spiritual abadi dapat dicapai. Begitu pentingnya momen kematian, Rasul Muhammad s.a.w menyatakan bahwa:

“Yang paling cerdas dan paling pintar ialah orang yang paling banyak mengingat-ingat mati, dan yang paling banyak sedia bekal untuk menghadapi mati.”

Dan:

“Cukuplah mati itu sebagai guru atau pelajaran.”

Mati adalah suatu kejadian yang paling berat, paling menakutkan dan paling mengerikan. Suatu kejadian yang pasti dihadapi oleh setiap manusia, suatu kejadian yang tak dapat dihindari dengan cara bagaimanapun. Bila dikatakan demikian, maka melupakan mati atau tidak mengingat mati adalah benar-benar sebuah bentuk kebodohan.

Mengingat mati adalah nutrisi spiritual yang luar biasa mujarab bagi kehidupan. Dengan mengingat mati, manusia:

o Bersyukur atas anugrah kehidupan yang diberikan pada Tuhan. Hidup yang melekat pada diri adalah amanah yang harus dijaga dan bukanlah harus diaku sebagai miliknya. Dengan kesadaran ini, ia akan menjaga tubuh, pikiran, hati dan jiwanya untuk selaras dengan maksud pemberi amanah. Sehingga ia akan cerdas (sehat) secara fisik, intelektual, emosional dan spiritual.
o Orang-orang yang dekat dengan perasaan mati, maka waktu hidupnya yang tersisa akan dipergunakan dengan seoptimal mungkin. Dia tidak akan sia-siakan setiap waktunya, setiap saatnya akan dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga, anak-istri, masyarakatnya dan agamanya. Menjadi motivasi untuk berbuat produktif.
o Menyadari Kematian adalah menyadari bentuk sebuah keabadian kehidupan setelah kehidupan dunia ini. Hal yang demikian akan menghapuskan segala bentuk hedonisme duniawiah – karena kehidupan dunia bukanlah yang sejati dan bukanlah yang kekal. Kesadaran semacam ini akan membawa dampak ketentraman hidup.
o Ingatan akan kematian, berarti ingatan akan darimana kita berasal dan kemana kita akan kembali. Asal dan Tujuan tersebut tidak lain adalah Pusat dari Hidup kita, yaitu Tuhan. Dengan banyak mengingat mati kita akan dibawa untuk lebih dekat dengan Pusat Hidup kita, dekat dengan Tuhan.
o Dengan ingat mati, kita akan diingatkan pada suatu momen yang disebut sakaratul maut. Oleh karena itu – kita akan terdorong untuk melakukan persiapan bagaimana menghadapinya kelak.

Kematian yang sukses,
Banyak orang berbicara tentang sukses kehidupan, tapi sedikit diantara manusia yang mengulas dan mengejar sukses kematian. Padahal kematian adalah kehidupan yang lebih kekal dari kehidupan di dunia. Sebagaimana kehidupan pada umumnya, proses kematian juga menampilkan wajah kebahagiaan dan juga wajah kesedihannya. Mengenai keduanya Qur’an memberikan penjelasannya sebagai berikut:

Tentang mati yang indah,
“Adapun bila yang meninggal itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri (kepada ALLAH). Maka (kematian baginya) adalah lega, semerbak dan nikmat sekali.”
(QS. Waq’ah : 89-90)

Bagi seorang pencinta Tuhan, kematian adalah hal yang dinanti – karena dengan ini ke-“SATU”-an sejati dengan yang dicinta (Tuhan) di dapatkan. Segala tutup penyaksian akan Realitas Keindahan tersingkap. Abu Darda r.a pernah berkata: ”Untuk seorang beriman, kematian adalah jauh lebih baik baginya. Siapa yang tidak percaya dengan ucapanku ini, silakan baca firman ALLAH” wama indallahi khairun lil abraar” (apa yang ada disisi ALLAH adalah kebaikan untuk orang mulia). Hasan bin al-aswad berkata : “Hanya saja maut itu adalah justru lebih baik untuk orang yang beriman, karena itu terjadi pertemuan seorang kekasih dengan kekasih.”

Seperti ditulis oleh K.H. Jalaluddin Rachmad : “Lebih dari seribu tahun yang lalu, di tengah-tengah sahara, pada hari Asyura, Imam Husain berkata kepada sahabat-sahabatnya; Bersabarlah kalian, hai putra-putra yang mulia. Kematian hanyalah jembatan agar kalian menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang luas, kenikmatan yang abadi. Maka siapakah di antara kalian yang tidak mau berpindah dari penjara ke istana sedangkan untuk musuh-musuhmu, kematian hanyalah perpindahan dari istana ke penjara dan azab. Sesungguhnya ayahku menyampaikan kepadaku dari Rasulullah saw, bahwa dunia itu penjara orang mukmin dan surga orang kafir. Kematian adalah jembatan bagi mereka ke surga dan jembatan bagi mereka yang lain ke neraka Jahim. Demikian ucapan Imam Husain menyimpulkan makna kematian alami.”

Tentang mati yang menyedihkan,
“Ingatlah bila roh sudah sampai di kerongkongan. Ditanyakan: siapakah lagi yang dapat menyembuhkan? Yakinkah ia bahwa perpisahan (mati) sudah datang. Berbelitlah kepayahan demi kepayahan. Kepada Tuhanmu dihari itu ia akan kembali. Padahal ia tidak membenarkan (ajaran ALLAH) dan tidak bersembahyang. Bahkan selalu mendustakan dan berpaling. Lalu kembali mendapatkan keluarganya dengan bersombong diri. Celakalah engkau dan celaka. Sekali lagi celakalah engkau dan celaka.” (QS Al Qiyamah : 26-35)
Diposkan oleh Bhre tandes

 
Forum » Info Ilmu Islam » Pengetahuan Marifat » KEMATIAN Wujud Lain Kehidupan (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-NYA.”)
Page 1 of 11
Search: